Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Festival of Light Kaliurang. Lokasinya di Gardu Pandang, Kaliurang, Sleman. Sebenarnya festival lampion serupa pernah saya nikmati juga di kota tempat saya bermukim: Solo. Namun saya dibuat penasaran karena festival ini terletak di dataran tinggi. Pasti dingin, segar dan menyenangkan. Saya hanya ingin merasakan bagaimana nikmatnya perpaduan antara temaram dan semilir. Pasti syahdu sekali.

Sekitar pukul 18.30 WIB saya tiba di Gardu Pandang. Hawa sejuk bekas rintikan hujan mulai menyambangi badan. Suara-suara jangkrik khas pedesaan riuh bersautan. Saya segera memarkirkan motor di lokasi parkir yang sedikit becek dengan jumlah kendaraan yang seabrek. Dari tempat parkir menuju lokasi festival terdapat beberapa pedagang makanan yang nangkring di pinggiran jalan. Tukang siomay, jagung bakar, bakso bakar dan penjaja minuman adalah diantara mereka yang tak luput mencari keuntungan.

Setelah membeli karcis, saya segera masuk lokasi festival. Suasana sudah ramai saat itu. Beberapa yang hadir dalam festival bahkan bersama keluarga, bukan hanya pasangan mudi dan muda. Mereka bersuka cita.  Perasaannya membuncah saat menikmati dan mengabadikan momen dalam lensa kamera. Ada yang sekedar menggunakan kamera telepon genggam, kamera digital single-lens reflex (DSLR), bahkan ada yang sengaja masuk festival untuk melakukan sesi pemotretan. Sejenak saya berpikir. Apakah ekspektasi saya yang hanya ingin sekedar menikmati semilir-temaram dalam sejuknya Kaliurang ini terlalu udik? Atau saya yang terlalu antik?

Potret Diri, Ruang dan Nalar Kapital

Kemajuan teknologi tak bisa dipungkiri. Ponsel genggam yang hampir selama 24 jam menemani kita sehari-hari adalah biang keladinya. Mungkin kita hanya meninggalkan gawai satu ini saat kita tertidur. Atau tertinggal jika kita sedang terburu-buru. Ia bagai pisau bermata dua. Bisa sangat berfungsi, namun bisa juga justru mencelakakan jika berlebihan dalam pemakaian.

Hal ini menimbulkan perubahan-perubahan sikap dan perilaku manusia. Perubahannya bisa bersifat integratif atau fungsional, lebih efisien misalnya. Bisa juga mengarah ke perubahan-perubahan lainnya seperti perubahan gaya hidup atau pola konsumsi.  Salah satu yang jamak kita temui dan sering kita alami adalah potret diri.

Secara harfiah, selfie bermakna potret diri (self-portrait photograph). Kamus Oxford mengumumkan bahwa ‘selfie’ dinobatkan sebagai word of the year pada tahun 2013 yang mempunyai arti: sebuah foto yang diambil oleh diri sendiri, biasanya diambil dengan ponsel pintar atau webcam dan diunggah ke situs media sosial. Meskipun hasrat untuk memotret diri sendiri telah dialami manusia sejak ratusan tahun lalu setelah kemunculan teknologi fotografi. Pelopor fotografi asal Amerika, Robert Cornelius pada tahun 1839 terlihat mengambil potret dirinya secara amatir dan dianggap sebagai foto selfie pertama di dunia.

Teman karib dari selfie ini adalah tongkat narsis atau biasa disebut tongsis atau dalam bahasa global disebut selfie stick. Kehadiran tongsis ternyata telah ada sebelum ingar-bingar tren ponsel pintar merambah pasar. Pengusaha asal Kanada Wayne Fromm pada tahun 2006 menemukan Quick Pod. Sebuah alat berbentuk tongkat panjang yang salah satu ujungnya dijadikan alat pengambil gambar. Namun Fromm kurang beruntung saat itu. Alat temuannya kurang diminati pasar karena ponsel pintar kala itu belum marak.

Namun ternyata Fromm bukanlah orang pertama yang menemukan tongkat potret. Dalam buku berjudul Unuseless Japanese Invention (1995), memuat daftar penemuan dari Jepang yang dianggap tidak berguna. Salah satunya tongsis. Wajar saja, saat itu dunia manusia masih dalam kategori masyarakat pra-smartphone.

Selfie juga turut berkontribusi pada budaya populer. Pada Agustus 2014, kata ‘Selfie’ masuk dalam permainan kata Scrabble. Satu bulan kemudian giliran serial TV komedi-romantis Amerika diberi nama ‘Selfie’ yang dibintangi oleh Karen Gillan dan John Cho. Disinilah aroma kapitalisme tercium sebagai bahan baku utama industri. Ia terus menerus melakukan inovasi. Menyediakan beragam ‘kenikmatan’ yang terus kita konsumsi. Salah satunya ihwal selfie.

Jika Marx menelaah kapitalisme dalam skema borjuis proletar, ia mengatakan bahwa buruh telah dieksploitasi oleh pemodal karena dituntut untuk memproduksi massal produk komoditas―sedangkan ia sendiri tak mampu untuk membeli produk tersebut. Sementara menurut pandangan sosiolog Amerika, George Ritzer (2010) mengatakan kapitalisme telah bergeser dalam masyarakat postmodernisme. Pertama, terjadinya pergeseran dari persoalan produksi ke konsumsi; kedua, terjadinya pergeseran fokus kapitalisme dari pengeksploitasian buruh ke pengeksploitasian konsumen. Maka konsumen adalah korban.

Fenomena selfie adalah peristiwa ekonomi politik. Selfie dimanfaatkan industri untuk memproduksi berbagai komoditas. Seperti halnya industri teknologi yang berlomba-lomba membuat fitur kamera depan termutakhir dengan kualitas tinggi. Imbasnya adalah ruang publik bergeser kehilangan makna. Komodifikasi berceceran kemana-mana. Misalnya taman Gardu Pandang saat digunakan sebagai lokasi Festival of Light. Ia sudah tak berfungsi sebagai taman, karena diganti dengan replika bunga dengan tempelan lampu di dalamnya. Industri wisata sangat jeli melihat peluang ini.

Begitu juga dengan kedai-kedai makanan dan minuman. Mereka tak hanya sekedar menjual produk pelepas lapar dan dahaga. Dengan daya seni tinggi mereka menata ruangan seestetik mungkin. Hiasan dinding yang kontemporer, properti benda-benda unik, hingga tampilan makanan atau minuman yang begitu necis. Rasanya mubazir jika kita tak mengabadikan momen di tempat sekeren itu. Seberapa banyak diantara kita yang sebelum makan atau minum justru mendahulukan foto―lalu mengunggah ke kanal media sosial daripada memanjatkan puja-puji serta doa?

Tak hanya ruang publik perkotaan. Alam pun tak luput dari komodifikasi. Jika pada tahun 1960an Soe Hok Gie naik gunung berkawan buku, melakukan refleksi pemikiran dan melahirkan sajak-sajak yang aduhai. Saat ini kelas menengah unyu perkotaan naik gunung bermodalkan ponsel pintar dan persediaan makanan. Selfie dimana-mana. Satu lokasi dipotret dengan berbagai sudut pandang. Seolah-olah telah sah menjadi sang petualang.

Industri kapital yang semakin banal juga merambah ruang-ruang sakral: agama. Tak sedikit penawaran paket haji atau umrah mulai dari yang sederhana hingga fasilitas untuk orang berada. Ibadah ke Timur Tengah ini telah dikemas menjadi ‘paket wisata’. Selfie pun tak ketinggalan ambil bagian. Anak-anak muda yang melakukan umrah, sudah lumrah mengambil foto ka’bah dengan selipan doa yang tertulis dalam kertas. Lalu mengunggahnya ke media sosial. Doa yang sejatinya adalah laku munajat hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan telah berubah menjadi sangat horizontal. Terkonsumsi publik.

Rasa-rasanya selfie adalah suatu keniscayaan. Tak terhindarkan. Terlebih bagi komunitas virtual. Laku hidup kita kerap dikonstruksi oleh yang maya. Kosong, hampa. Tanpa makna bahkan papa. Seperti yang diungkapkan Yasraf Amir Piliang dalam buku Ekstasi Gaya Hidup (1997), percepatan deru mesin kapitalisme memungkinkan manusia masa kini “melihat dirinya sendiri” sebagai refleksi dari citra-citra yang ditaburkan oleh cermin-cermin komoditas.

Tak hanya kalangan akademis yang melihat gejala ini. Sekelompok seniman musik rock bernama FSTVLST kerap melantunkan syair ini dalam lagunya berjudul Ayun Buai Zaman: Sejauh mata memandang hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. Namun apapun yang pernah tergenggam pasti akan memudar, lalu hilang. Bersyukurlah kita menjadi generasi selfie. Generasi masa kini yang sulit mencari substansi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s