Sinema layar lebar arus utama Indonesia kembali menawarkan tema-tema alternatif bagi penikmat film.  Di awal tahun 2016 lalu kita disuguhkan Siti, drama keluarga yang tak biasa. Lalu Surat Dari Praha, kisah romansa tahanan politik 1965. Dan pada awal tahun 2017 ini kita disuguhkan sebuah fiksi biopik berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Secuil kisah penyair ulung bernama Wiji Thukul. Seorang aktivis pro-demokrasi yang berjuang melawan penindasan dan merindukan keadilan semasa rezim Orde Baru.

Film besutan Yosep Anggi Noen ini lebih dulu tayang di berbagai festival film seperti 69th Locarno International Film Festival, 21th Busan International Film Festival dan Pacific Meridian-International Film Festival of The Asia Pacific Region pada 2016 lalu. Di Indonesia sebelum tayang di bioskop, film ini diputar pada 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival-Islandscape, Yogyakarta.

Tak seperti film biografi pada umumya yang ingin tampil ‘gagah’ serta heroik. Istirahatlah Kata-Kata hadir dengan polesan sederhana. Apa adanya. Dimulai dengan adegan intel yang menginterogasi istri Wiji Thukul, Sipon. Sambil mendekap putrinya Fitri Nganthi Wani, Sipon yang diperankan dengan ciamik oleh Marissa Anita terlihat ketakutan. Suasana sedikit tegang. Tak ada kata-kata jawaban dari mulut Sipon maupun Fitri. Mereka memilih diam dari intel yang menanyakan ‘Bapak mulih ora, nduk?’ (Bapak pulang atau tidak, nak?).

Berlatar tahun 1996. Pasca meledaknya peristiwa 27 Juli 1996. Saat para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) diburu tentara lantaran dianggap sebagai biang kerok kerusuhan. Beberapa tokoh PRD telah ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Salah satunya Budiman Sudjatmiko. Termasuk Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto masuk dalam list buronan aparat. Hingga Wiji harus melarikan diri ribuan kilometer dari kota kelahirannya, Solo.

Suasana 1990an kentara sekali dalam film itu. Mobil Toyota Kijang generasi III membawa Wiji dalam pelarian bersama kawannya, Thomas di Pontianak. Di Rumah Thomas Wiji membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer; Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang notabene adalah buku terlarang saat itu. Selain membaca, Wiji masih terus memproduksi puisi. Gunawan Maryanto tampak sukses memerankan Wiji Thukul. Tatapan mata yang tajam, suara lantang dengan aksen cadel terasa apik diperankan. Dalam satu obrolan ringan dengan Thomas, Wiji mengaku ketakutan. “Ternyata jadi buron lebih menakutkan daripada sekompi kacang hijau (tentara) yang membubarkan demonstrasi,” kata Wiji terkekeh.

Jika kita menanti adegan serbuan atau kekejaman-kekejaman tentara kepada Wiji maka penantian kita akan pupus. Sebab tentara dalam film ini hanya ada dalam bayang-bayang. Bayang-bayang ketakutan Wiji selama pelarian. Meskipun saat tinggal di rumah Thomas ada salah satu tentara yang berjaga. Sayangnya, tentara itu hanyalah orang gila yang gagal menjadi tentara. Betapa saat itu tentara adalah sebuah cita-cita. Menjadi profesi idaman tiap orang.

Setelah rumah Thomas, Wiji pindah ke rumah Martin. Salah seorang kawan aktivis yang berasal dari Medan. Lagi-lagi aroma khas 1990an tercium dalam film ini. Martin bersama istrinya yang diperankan oleh Melanie Soebono memiliki sepeda motor Suzuki Jet. Bersama Martin, Wiji membuat KTP baru dengan nama Paul. Serta memotong cepak rambut setengah gondrongnya itu. Secara tak sengaja saat cukur rambut Wiji berbarengan dengan salah seorang tentara yang berjaga disana. Tanpa antri tentara tadi langsung dilayani dan mengatakan bahwa siapa saja yang hendak memotong rambut cepak ala tentara tidak dipungut biaya. Hal ini menggambarkan bahwa tentara adalah simbol kuasa.

Hari demi hari Sipon masih terus dibayang-bayangi intel. Menggeledah rumahnya serta merampas koleksi buku-buku Wiji. Namun bagi Wiji―justru dengan cara itu, negara melalui tentara telah memperkenalkan simbol kekejaman kepada anak-anaknya. Lagi-lagi Wiji digambarkan mengambil sikap puitik atas segala penindasan yang dialaminya.

Setelah melarikan diri ke rumah Thomas dan Martin, Wiji memberanikan diri untuk pulang. Untuk bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Hingga pada suatu kamar hotel yang menghidangkan coca-colla dan kacang rebus. Wiji dan Sipon bertemu. Mereka saling melepas rindu.

Saat akan pulang ke rumah, ada adegan simbol anti-kapital yang hendak diungkapkan. Sipon bertanya kepada Wiji ‘Kui coca-collane digowo ora nggo Fitri karo Fajar?’ (itu coca-colanya dibawa atau tidak untuk oleh-oleh Fitri dan Fajar). Wiji menjawab singkat ‘kacang godhog e wae’ (kacang rebusnya saja). Coca-colla sebagai simbol kapitalisme tidak dikonsumsi Wiji.

Kepulangan Wiji ke rumah menjadi bagian klimaks dalam film ini. Sambil menangis sesenggukan Sipon berkeluh kesah kepada Wiji ‘aku tak ingin kamu pergi, aku tak ingin kamu pulang, aku hanya ingin kamu ada’. Wiji hanya diam. Saling berpandangan. Kemudian Wiji menenangkan Sipon dengan memberikan segelas air putih.

Tanpa dialog. Tanpa ucapan selamat tinggal. Diiringi sunyi dan isak tangis istrinya, Wiji berjalan menuju dapur, kemudian tak kembali. Adegan ini menjadi simbol ‘hilangnya’ Wiji Thukul. Suasana haru kian menjadi saat intro lagu ‘Bunga dan Tembok’ yang dinyanyikan putra Wiji Thukul, Fajar Merah menjadi musik latar penutup akhir film.

Pada februari 1997 Wiji kembali ke Jakarta bersama aktivis pro-demokrasi lainnya. Tak lain dan tak bukan, tujuannya adalah untuk kesekian kalinya merongrong pemerintahan Soeharto. Puncaknya, sebulan sebelum Orde Baru tumbang pada Mei 1998, Wiji bersama beberapa rekan aktivis dinyatakan hilang.

Hampir sekujur film ini digambarkan dalam potret yang sunyi. Seakan merefleksikan keberadaan Wiji yang tak pasti dan tak terlacak jejak rimbanya hingga hari ini. Meski demikian, Istirahatlah Kata-Kata menjadi pelajaran berharga untuk kita semua. Ada suatu masa dimana rezim negara takut dengan kata-kata.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s