oleh: Gunawan Wibisono

Salah satu kelompok musik asal kota pahlawan, Silampukau belum lama ini mengeluarkan album penuh perdananya. Duo folk yang terdiri dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening ini menelurkan album bertajuk Dosa, Kota dan Kenangan. Memuat 10 lagu tentang memori kolektif keadaan kota yang terekam dan bermalam dalam satu fragmen hidup: Surabaya.

Dari artwork kover album, kita bisa melihat sketsa wajah kota yang tampak enggan sepi, bising, lalu lalang tapi tetap riang. Jika kita menelusuri lagu demi lagu, bisa kita mulai dari urutan nomor satu: Balada Harian. Lagu ini berkisah tentang rutinitas kaum urban dari mulai bangun tidur sampai sesuatu yang tak menentu seperti pertumbuhan kota yang kian asing, kian tak peduli, semakin ngeri bahkan tak terpahami bagi para penghuninya sendiri.

Tembang dan Kenyataan

Siapa yang tak kenal Dolly? kawasan legendaris lokalisasi pelacuran di Surabaya ini dipotret dalam lagu berjudul Si Pelanggan. Dolly / yang menyala-nyala dipuncak kota / yang sembunyi disudut jalang jiwa pria Surabaya. Dolly yang ditutup sejak Juni 2014 lalu sempat menjadi buah bibir dan polemik hangat di masyarakat.

Jika kita tilik kebelakang, hal serupa ternyata pernah dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui polisi susila atau yang disebut zedenpolitie. Menurut Majalah Historia Online, Polisi susila ini didirikan untuk mengurusi masalah kesusilaan dan penegakan moral masyarakat. Tapi prostitusi tak lantas mati dan para pelakunya bergerak secara sembunyi-sembunyi. Mulai dari pemilik hotel, restoran, dan tempat hiburan malam menyediakan jasa seks berbayar terselubung. Menurut catatan RDGPH Simons, ahli demartologi Batavia, bahkan menyebut prostitusi di Surabaya berkembang menjadi delapan jenis pada 1939. Meski berusaha untuk dibasmi, perilaku yang dianggap menyimpang ini seakan tak pernah mati. Menariknya lagi, fakta sejarah ini seolah diamini oleh Silampukau dengan melantunkan: meski beritamu kini sedang tak pasti / yakinlah pelacur dan mucikari kan hidup abadi.

Lagu ketiga berjudul Puan Kelana menjadi sebuah balada romansa bagi sepasang kekasih yang terpisah beda negara dengan sudut pandang Prancis dan Surabaya. Lagu selanjutnya berjudul Bola Raya, sebuah lagu sentilan tentang ruang kota. Silampukau melihat situasi anak-anak yang bermain bola di jalan raya dengan beralaskan aspal dan bergawang sandal. Secara tidak langsung, anak-anak yang bermain bola di jalan raya ini sedang melakukan perebutan ruang kota dari pemodal: tanah lapang kami berganti gedung / mereka ambil untung / kami yang buntung.

Dalam buku Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an, Purnawan Basundoro (2013) mencoba merekam jejak akuisisi ruang yang dilakukan rakyat miskin Surabaya era 1900 hingga 1960an. Setidaknya ada dua kelompok yang menjadi lakon utama dalam buku ini, kelompok rakyat desa pelaku urbanisasi dan penduduk lokal yang terpaksa mengungsi karena perang. Industrialisasi dan perang memaksa rakyat untuk melakukan hijrah.

Hingga pada akhirnya si pelaku urbanisasi tak kunjung sejahtera karena harus berebut ruang dengan kondisi Surabaya yang semakin luber oleh para pendatang dan kekagetan para pengungsi perang mendapati keterasingan dirumahnya sendiri karena rumah-rumah mereka telah di akuisisi. Penduduk yang tidak mendapatkan tempat di ruang privat akhirnya terdesak ke ruang publik. Sekali lagi, kota kembali menawarkan kengerian-kengerian tak terduga.

Lagu selanjutnya bercerita tentang kawasan hiburan kota, Taman Remaja Surabaya yang ditembangkan lewat lagu berjudul Bianglala. Sementara pada urutan 6 dan 7, lagu yang berjudul Lagu Rantau (Sambat Omah) dan Doa 1 jadi lagu andalan yang menjadikan album musik ini masuk dalam jajaran album terbaik 2015.

Di urutan nomor 9, lagu berjudul Sang Juragan menceritakan tentang penjual minuman keras yang bergerak sembunyi-sembunyi. Silampukau melagukannya begitu etnografis: Dari sungai yang berkarat, susuri arah menuju barat / Di seberang kantor wakil rakyat, di sanalah aku bertempat. Dalam penelitian yang berjudul ‘Industri Rumah Tangga di Sekitar Pabrik: Penyulingan Arak di Beberapa Kota di Jawa sekitar 1870-1925’ yang ditulis oleh Kasijanto menjelaskan bahwa Hindia Belanda pernah membuat komisi anti-alkohol untuk alasan moral sekaligus mendongkrak ekonomi.

Berbagai organisasi seperti Sarekat Islam dan Muhammadiyah mendesak pemerintah kolonial untuk membuat peraturan terkait minuman beralkohol. Alhasil pada tahun 1918 pemerintah membentuk komisi penanggulangan alkohol (alcoholbestrijding commisie), yang beranggotakan unsur pemerintah dan masyarakat. “Komisi ini ditugasi untuk ‘memerangi’ masalah-masalah yang timbul sebagai dampak dari penggunaan (terutama penyalahgunaan) alkohol di Hindia Belanda,” tulis Kasijanto dalam Historia Online.

Lewat album Dosa, Kota dan Kenangan ini Silampukau berhasil merefleksikan kenangan-kenangannya tentang Surabaya, tenang konflik yang tak kunjung reda dan tentang para penghuninya yang menyimpan banyak cerita tentang kotanya. Coba saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s